Selasa, 25 Oktober 2016

Mensyukuri Ibu-Ibu Rumah Tangga Yang Bekerja

Seperti apakah penampilan para marketer Aulia Production  dengan omzet ratusan juta hingga milyaran rupiah pertahun? Apakah mereka adalah perempuan-perempuan bergaun mewah, bermake up lengkap dengan perhiasan gemerlapan dan sepatu harga jutaan? Saya beruntung pernah  dipertemukan Allah dengan Ibu-Ibu luar biasa ini. Ada yang bertatap langsung dan saling ngobrol, ada pula yang bertemu melalui facebook dan saling ngobrol juga. Bagaimana kesan saya?
Ternyata sangat jauh dari glamour saudara!!!! Sama sekali tidak seimbang dengan penghasilannya (ahem!) Penampilan para top marketer ini persis seperti ibu-ibu berhijab yang biasa kita jumpai waktu belanja bulanan di supermarket atau waktu antar jemput anak sekolah. Berhijap rapat, no make up, sepatu/sandal ya biasa aja, tapi begitu berkenalan dan ngobrol kita akan tahu kenapa mereka disebut top marketer.

Mereka memiliki banyak persamaan menurut saya. Taat beribadah, pengetahuan tentang Islam yang luas dan komitmennya yang tinggi dalam merawat dan mendidik anak secara Islami serta taat pada suami. Dan dibalik sifat lembutnya sebagai ibu, mereka ternyata sangat cekatan, haus ilmu dan jelas-jelas melek teknologi. Mereka sangat familiar berkutat dengan media sosial, lancar mengoperasikan laptop dan smartphone (ya iyalah namanya juga jualan online :D) dan kepandaian multitaskingnya luar biasa.

Sepertinya mereka ingin menyampaikan kesan kepada siapapun yang bertemu bahwa mereka memang "hanya" ibu rumah tangga biasa, apapun gelar kependidikannya. Yang membedakan hanyalah penghasilannya :D. Jadi bisa dibayangkan ketika mereka bekerja di rumah, memakai daster sehari-hari, berkutat dengan stok tumpukan baju gamis, jilbab dan mukena serta anak-anak yang menginterupsi tanya ini itu atau minta dibantu mengerjakan PR sekolahnya.





Bedanya lagi ada satu bagian dari rumah mereka yang selalu penuh dengan tumpukan baju berserakan, terutama ketika sedang menangani costumer yang sedang COD:

  
 

Dan mereka terlihat sebagai ibu rumah tangga yang bahagia. Kepercayaan dirinya tinggi karena merasa hidupnya bermanfaat, tidak sekedar buat suami dan anak-anak tercinta, tapi juga buat orang-orang di sekitarnya. Mereka bahagia karena seberapapun tinggi penghasilan suami, mereka diijinkan untuk mengembangkan diri. 

Karena menjalankan bisnis, apapun itu merupakan proses pembelajaran tanpa henti. Belajar tentang manajemen keuangan perusahaan, belajar mengamati perilaku orang, belajar berkomunikasi secara baik dan efektif serta belajar membagi waktu antara menangani bisnis, merawat anak dan melayani suami serta menyusun prioritas yang benar. Dan menjalankan bisnis, menuai hasil, meningkatkan ekonomi keluarga membuat ibu-ibu ini merasa eksistensinya diakui.

Para suami yang mengijinkan istri untuk terus berkembang secara lansung sudah memenuhi kebutuhan batin istri, berupa rasa puas akan kemampuan sendiri, kebebasan berekspresi sesuai dengan kaidah syar'ie dan rasa penerimaan dan cinta tanpa syarat dari suami.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar