Kamis, 20 Oktober 2016

Perjuangan Muslimah Membangun Image Diri Sendiri

Bunda dan Sista, tahukah anda berapa banyak manusia-manusia delusional yang menganggap dirinya sebagai ksatria berbaju zirah berkilau yang siap membebaskan para muslimah dari 'penjara'nya yang bernama hukum syariah? Sekali-kali berkunjunglah ke forum-forum internasional yang membahas tentang perempuan dalam Islam, Hijab dan Feminisme dalam Islam.  

Kenapa? Karena yang digambarkan oleh media masa atas perempuan berhijab adalah perempuan putus sekolah yang dipaksa menikah oleh ayahnya di umur 12 tahun, harus merawat selusin balita beberapa tahun sesudahnya, dan tubuhnya penuh bekas luka karena tamparan, pukulan dan bekas sabetan rotan di balik baju yang menutupi seluruh tubuhnya.

Gambaran yang alhamdulillah tidak ada di Indonesia. Tapi image bahwa jilbab identik dengan kemunduran dan keterbelakangan sampai sekarang masih ada. Apalagi kalau kita menyaksikan seorang wanita berhijab, berkerudung lebar sambil menggendong bayi sekaligus menuntun balita, image tertekan dan menderita semakin melekat kuat. 

Dan sementara negara-negara sekuler mengijinkan para polisi wanitanya yang muslimah berjilbab bertahun-tahun yang lalu, Indonesia yang merupakan penduduk muslim terbesar sedunia butuh belasan tahun untuk mengijinkan para polwan menjalankan agamanya untuk menutup aurat secara sempurna.

Yang tidak disadari oleh masyarakat umum adalah berapa banyak mereka melihat para muslimah bergaun indah menghadiri menghadiri rapat sekolah, atau sekelompok muslimah yang notabene ibu-ibu muda berkumpul hendak mengikuti halaqoh, saling ngobrol dan bercanda terlihat lepas dan bahagia, jauh dari kesan miskin dan terbelakang.

Dan tak ada yang lebih cepat merubah image selain memproduksi massal gamis, jilbab, mukena, busana anak-anak baju renang muslimah dan perlengkapan lainnya  untuk dipakai oleh para muslimah terpelajar, taat, dan berkecukupan secara finansial. Merekalah yang akhirnya menjadi 'model dan peragawati' untuk baju muslim ber-"spek tinggi". 



Spek tinggi adalah kata lain dari "mahal" yang biasanya saya tujukan untuk laptop dan gadget. Ketika kita bilang spek tinggi berarti ia memiliki prosesor terbaik, Vga tersepat dan Ram tertinggi. Maka kalau busana Muslim is bisa jadi terbuat dari kain berkualitas tinggi, didisain oleh desainer berpengalaman belasan tahun, dipotong dengan cermat dan presisi, lalu dijahit dengan kuat dan sangat rapi. Sehingga sepintas saja orang tahu bahwa busana itu bernilai tinggi.

Para model itulah yang akhirnya di tiru oleh wanita-wanita kebanyakan. Para Ibu rumah tangga biasa yang sekarang jadi malu kalau keluar rumah tanpa penutup kepala. Tidak cukup uang untuk beli gamis mahal tak apalah, cari saja model yang sama dengan kualitas sedikit di bawahnya. 

Dan akhirnya busana muslimah lengkap d engan jilbab rapat menutup kepala menjadi tren. Sekolah-sekolah Negeri yang berisi siswa berbagai agama dipenuhi anak-anak Islam berjilbab, meski usia mereka masih sangat muda. Pertemuan wali murid dipenuhi ibu-ibu berjilbab, meski bisa jadi di rumah mereka tidak rutin mengenakannya. Setidaknya mereka memandang bahwa baju muslim adalah pakaian formal mereka.

Para produsen baju muslimah inilah yang ikut berjuang mengangkat martabat busana muslim setinggi-tingginya. Yang merombak definisi kecantikan wanita hanya dilihat dari kemulusan kulit, kecantikan wajah, warna, bentuk dan tekstur rambut, ukuran pinggang, paha, betis dan payudara, serta seberapa banyak bagian tubuh yang bisa dengan bangga dipamerkan oleh seorang wanita.

Dan tiba-tiba semua perempuan tampak sangat cantik dibalut pakaian menutup seluruh tubuh dan hanya menampakkan muka. Orang-orang berlomba-lomba memuji kecantikan mereka, bahkan oleh mereka yang dulunya berpikir baju muslim terkesan ndeso dan kampungan.

Bagaimana peran Aulia? Kalau ingin tahu saya sarankan Bunda Dan Sista berkunjung ke sekolah-sekolah Islam swasta di Surabaya, anda akan terkejut melihat berapa banyaknya ibu-ibu muda berpendidikan tinggi nan cantik jelita memakai berbagai produk aulia. Kadang mereka berkumpul dan ngobrol bersama, seperti sekumpulan model bersiap menghadapi pemotretan.

Ingin rasanya kupotret mereka dan kupajang fotonya. Tapi tentu saja sangat tidak etis melakukan itu semua demi kepopuleran sebuah artikel. Bukan begitu?







 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar